Sabtu, 01 Maret 2025

Pentingnya Adab dalam Hidup Kita


ADAB ILMU


Adab katanya. Perlakukanlah orang sebagaimana kalian ingin diperlakukan. Kataku seperti itu. Pertama menjadi manusia, memanusiakan diri sendiri terlebih dulu sebelum orang lain. Adab terhadap diri sendiri adalah bentuk cinta paling nyata kepada penciptaNya. Bagaimana mungkin seseorang akan beradap kepada orang lain ketika dia tidak beradap kepada diri sendiri? Sesimpel jangan merugikan diri sendiri (apa lagi orang lain, jangan ya dek ya 👀) jadi apa sih adab kepada diri sendiri itu? Yang pasti menghargai, menghormati diri sendiri, sesuai ruang, waktu, dengan penuh menggunakan empati. Kita hidup harus punya motivasi (lagi-lagi kesini wkwk (/_;)/~~ ) sesimpel hiduplah sekarang sebagaimana kamu ingin hidup di masa depan. Mudah? Mungkin. Sulit? Tentu saja! Jadi bagaimana caranya? Begini, sepemahamanku yang dikit banget, menghargai waktu, memanfaatkan umur, tidak membuang bahkan menyiakan waktu, kurangi hal-hal yang tidak bermanfaat, belajar setiap hari, bertumbuh lebih banyak, pokoknya yang membuat diri berkembang deh. Nah kalau kita malakukan hal yang kebalikan berarti tidak beradap kepada diri sendiri? Silahkan boleh simpulkan sendiri xixi.

Lagi. Bahwa coba lebih lebar membuka mata. Amati sekitar, cari sudut pandang baru. Di hidup yang xuma sekali masa ia menyakiti diri sendiri? Di hidup yang hanya sekali masa iya tidak menebar manfaat barang sebiji sawi? Di hidup yang hanya sekali, masa iya harus terus begini-begini? Jadi cintai diri sendiri. Perlakukanlah dirimu selayak-layaknya. Sebaik-baiknya.

Nah selanjutnya adap terhadap hal-hal disekitar. Khususnya dengan orang-orang yang kita temui setiap hari. Keluarga, teman, rekan kerja, pasangan dan yang lainnya. Perlakukanlah orang sebagaimana kalian ingin diperlakukan. Aku teringat sebuah kisah dari seorang imam dan penderita kusta. Suatu ketika seorang ulama bernama Mansur yang sedang berpuasa berjalan menuju masjid. Tiba-tiba penderita kusta menawarinya untuk makan bersama. Dengan hati lapang ulama itu bersedia meski makanan yang dimakan berasal dari sisa makanan di tempat sampah. Singkat cerita sang penderita kusta bertanya 'kenapa anda mau makan bersama kami. Apakah anda tidak takut? Sebelumnya para imam tidak ingin bergabung' lalu kata ulama itu 'kebanyakan dari mereka mungkin sedang berpuasa' sang penderita kusta bertanya lagi pada ulama itu. 'Kenapa anda tidak berpuasa juga sebelum ramadhan? Bukankah anda orang yang religius? Apakah tidak takut dengan Allah?' Pertanyaan itu terus berlanjut hingga sang ulama menjawab 'tentu saja aku mencintai Allah, dan aku senang makan bersama kalian' setelah makan sang ulama melanjutkan pergi ke masjid. Dalam doanya dia berkata 'terimakasih ya Allah untuk kesempatan melayanimu, semoga Engkau menerima puasaku hari ini' mendengar doa itu beberapa ulama lain berkomentar, menganggap Mansur munafik karena melihat dia makan sebelumnha bersama penderita kusta. Mansur menjawab 'aku mungkin telah membatalkan puasaku, tapi aku tidak menyakiti hati seseorang. Katakanlah padaku apa yang akan lebih mudah Allah maafkan: membatalkan puasa karena cinta atau hati yang kita sakiti karena mementingkan diri sendiri?'

Itulah kira-kira. Apalagi dalam setiap aspek kita harusnya belajar setiap hari. Berguru dengan siapapun. Maka sangat penting untuk bersikap rendah hati, menjadi gelas kosong, kepada guru-guru kita. Patuh. Mana ada sih guru yang mau menyesatkan muridnya? Trust your mentor kan? Yang ada semua mentor, guru-guru kita ingin menjadikan kita manusia yang beradap, berdaya guna. Makanya kembali lagi kita harus tahu ruang dan empati. Semua orang bisa menjadi guru bagi kita. Masalahnya kita mau tidak merendahkan diri menjadi murid? Salah satu keberkahan ilmu adalah ridho dari seorang guru.

Lanjut~ di depan tadi disinggung masalah tujuan kan ya? Nah untuk menyelaraskannya itu kita harus mencari keterkaitan atau relevansi antara bayangan masa lalu, kejadian saat ini, dan gambaran masa depan.

Yang pertama, untuk bayangan masa lalu sendiri lebih kepada backgound kita sendiri. Berasal dari mana, punya bekal apa, kuasai bidangnya apa tidak. Hal-hal seperti itu.

Selanjutnya yang kedua adalah hal yang kita kerjakan saat ini. Seperti halnya, sekarang ini kamu sadar kamu ngapain? Sedang melakukan apa? Dan lagi-lagi tujuannya apa? Harusnya sih dengan bayangan masa lalu kita bisa mengira-ngira punya acuan harusnya aku kayak gini nggak sih? Lebih baik lagi dengan bekal yang yang didapat dari backgorund yang aku sebutkan sebelumnya harusnya nih sejalan. Kek sayang banget nggak sih sebanyak itu bekal kita saat belajar tapi pada eksekusinya malah tidak terpakai? Maksudku bukannya tidak terpakai tapi mungkin kurang relevan aja nggak sih?

Yang terakhir nih, gambaran masa depan. Orang bisa menyebutnya cita-cita. Siapa yang nggak punya cita-cita 👀🙏🏻 mereka hanya tidak berani jujur kepada diri sendiri. Semua orang pastinya punya. Lihat lagi kedepan, gambarkan di masa yang akan datang kita mau jadi diri seperti apa? Nah action nya itu saat ini nih, dengan bayangan masa lalu sebagai pengantaranya.

Maksdunya apa? Ketiganya harus relevan. Harus beneran fokus dengan apa yang dikerjakan. Kita bisa kok menjadi apapun yang kita inginkan. Asalkan itu tadi. Punya tujuan. Tetap relevan. Dan fokus!

Kenapa hal itu penting? Agar kita tidak mudah terbawa arus~ mengikuti perkembangan zaman juga penting, tapi tetap harus berpegang teguh dengan apa yang menjadi tujuan. Kita semua bisa kok, cuma mau atau tidak. Apakah cukup berani untuk mengambil semua itu? Lagi-lagi mengenal djri sendiri sangat penting. Lain kali mungkin akan aku tambahkan tentang self profiling pada tulisan ini. Atau bab yang lain.


Ikan lohan keselek selasih
Sekian terimakasih 🙏🏻🙏🏻

Sabtu, 15 Februari 2025

Ruang, Waktu, dan Empati Bagian Dua


 Hai^^ aku mulai lebih awal tahu xixi. Kalian baca tidak bagian sebelumnya? Bagi yang belum baca disarankan untuk membaca tulisan sebelumnya hehe. Lanjut aja ah.

Nah yang ketiga ada yang namanya kecerdasan ruang transaksional. Apa ya kira-kira? dari yang aku dapet ruang transaksional itu adalah cara kita mempertimbangkan suatu transaksi, mulai dari cara komunikasi, melayani sepenuh hati, negosiasi. Jujur bagian ini aku kurang bisa mendeskripsikan lebih dalam ges. Intinya saat kita sedang mengobrol atau berkomunikasi kita harus memberikan pelayanan yang terbaik. Itu aja sih. Yang lebih tahu bisa tulis di komen ya AHAHA.

Nah yang terakhir nih ada yang namanya kecerdasan komunal. Dalam hal ini berkaitan erat dengan andil kita dalam suatu komunitas atau kelompok utamanya untuk saling bergotong royong dengan rasa kekeluargaan.

Dari keempat itu sih secara garis besar kita diminta untuk dapat menempatkan diri pada tempatnya. Kan kecerdasan ruang sudah ya ges ya. Selanjutnya adalah kecerdasan waktu. Aku pengen tahu hal apa yang terlintas dipikiran kalian kalau denger kata waktu? Kalau aku sih 'menyia-nyiakan waktu' selama hidup hampir 24 tahun ini aku bahkan aku belum tahu apa yang benar-benar aku inginkan. Masih dalam perjalanan, sabar, kapan-kapan kalau aku udah tahu ayo ngobrol lagi! Aku juga berusaha kok.

Ruang waktu. Ruang waktu adalah dimana kita dapat menempatkan diri pada waktu dan situasi yang tepat. Kemampuan untuk memanajemen waktu sehingga tidak terbuang sia-sia. Dalam hal ini kita juga harus membuat skala prioritas. Mulai dari sesuatu yang penting dan mendesak. Selanjutnya sesuatu yang penting dan tidak mendesak. Yang ketiga yaitu sesuatu yang tidak penting dan mendesak. Dan yang paling terakhir adalah sesuatu yang tidak penting dan tidak mendesak. Bagaimana? sudah terbayang? seolah selama ini kita (aku deng) beneran membuang waktu. Padahal punya banyak waktu juga nikmat tapi sering kita abaikan. Aku baru tahu bahwa Allah paling tidak suka dengan orang yang menyia-nyiakan waktu. Hidup sekedar napas? apa-apaan coba? Kita sebenernya bisa lebih dari itu. Kita kan khalifah di bumi-Nya yang luas. Setiap yang diciptakan-Nya mempunyai tujuan dan tugas masing-masing, tapi dengan seenaknya kita mengabaikan itu, betapa banyak waktu yang terbuang sia-sia tanpa dapat apa-apa? TT

Nah kalau kita masih seperti itu berarti kita belum dapat dikatakan sebagai manusia yang punya kecerdasan waktu. Mana mungkin kita mau hidup seperti ini terus kan? Makanya lawan rasa malas, buat hari seproduktif mungkin. Ngomong aja gampang sih, tapi realitanya? bener ges sulit kataku teh wkwk. Tapi kalau tidak di paksa mau imana lagi? Kita harus membiasakan diri kan? awalnya terpaksa lama-lama terbiasa. Misal nih yang paling simpel, buat jadwal harian. Buat to do list. Pokoknya ayo jadi manusia yang cerdas itu. Hidup yang hanya sekali, manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Jangan menyesal kemudian hari yaw. Kita usahan hidup yang bermakna itu. Semangat ges.

Ah sampai sini dulu deh lanjut besok. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan lagi. Ba bai, jumpa lagi secepatnya.

Jumat, 14 Februari 2025

Ruang, Waktu, dan Empati


Aku penasaran siapa yang baca tulisanku sebelumnya. Pasalnya aku tidak membagikannya kepada siapapun. Rasanya sedikit personal? Tapi aku senang sekali ada enam pengunjung karenanya AHAHAHA. Besok-besok kalau kalian lihat tolong berikan coment xixi (maksa dikit!) kalian baik kan? kamu juga aku harap akan selalu seperti itu! Lagi-lagi aku masih ingin menulis, membagikan perasaan ku, siapa tahu, siapa sangka seseorang tergerak hatinya eh? hehe.

Aku punya tempat baru buat belajar. Seolah semua yang aku inginkan berada disana. Aku sendiri juga baik tapi tolong sesekali tanya keadaanku sedikit saja wkwkw. Aku mau dan akan tetap ingin belajar. Jadi hari ini aku dapat hal lagi. Aku akan mengikatnya dengan tulisan. Semoga tidak lupa. Kalau lupa ya maaf namanya manusia tempat salah dan lupa. Jadi gini (kalian masih penasaran? aku juga sama, bagaimana ya disana?) namanya ruang, waktu, dan empati. Mari perlahan biar aku tulis satu persatu.

Ruang ya? Kira-kira yang terlintas dipikiran kalian itu apa? Ruang bukannya tempat? Sering tidak sadar kita hanya memperhatikan diri sendiri sehingga rasanya lupa di mana kita saat ini berpijak. Sebagai manusia yang diberikan kecerdasan oleh Allah alangkah lebih baik jika kita memanfaatkan itu dengan sebaik-baiknya. Dengan kecerdasan yang dititipkanNya diharapkan dapat membantu kita dalam dunia yang fana ini. Salah satu kecerdasan yang menurut pribadi itu penting adalah kecerdasan ruang. Apasih kecerdasan ruang itu? kalian pasti bisa menerka-nerka. Iyakan? Perlu diingat ya ges ya, aku hanya senang menulis dan menyimpan perasaanku di sini jadi bukan bermaksud untuk menggurui siapapun (aku tidak lagi punya seseorang seperti itu, pliss balik lah woi TT diskusi lagi sini WKWK) aku lanjutkan ya nanti keburu ngantuk.

Kecerdasan ruang menurutku adalah kita tahu bagaimana menempatkan diri di dalam suatu tempat. Rasanya tidak luwes kalau kita ketawa-ketiwi di pemakaman. Rasanya tidak etis saat kita makan di dalam kelas yang seharusnya buat belajar. Tidur juga gitu (hayo lho sapa yang dulu suka gitu pas belajar di sekolah hehe tandanya apa tuh xixi, canda ya ges ya serius amat sih) kan? rasanya aneh kita belajar di taman hiburan. Begituuu sayang, lebih dalam sepengetahuan aku saja, yang aku inget tadi pagi bahwa kecerdasan ruang itu dibagi menjadi empat.

Yang pertama ruang kultural. Seperti kita yang memasuki lingkungan baru, sekolah, kampus, workplace, rumah atau apapun kita tidak bisa untuk memaksakan budaya yang sebelumnya kita telah biasa akan hal itu untuk di masukkan ke tempat baru. Maaf agak kasar, istilahnya tahu diri lah. Kita ini tamu, bahkan sebelum kita bergabung budaya mereka sudah ada sejak dulu. Satunya hal yang mau tidak mau kita harus lakukan adalah adaptasi. Amati, rasai, ikuti, biasakan. Tentu saja hal yang baik saja. Itulah sebaiknya kita tahu tempat. Kita itu sebenarnya lagi di mana. Kenapa hal itu penting? Lagi-lagi sebagaimanusia kita harus berhubungan baik dengan sesamanya. Sebagai makhluk sosial kita suatu saat pasti akan memerlukan bantuan orang lain. Jadi bersikap baik lah, bangun hubungan yang baik.

Aduh aku sebenernya udah cape, mau tidur, udah setengah sembilan malem nih, apa aku lanjutin besok aja yaa? tapi nanggung banget tolong! tiga lagi aja kok. Deal ya teman? (plis jawab iya biar aku enggak kayak ngomong sendiri kek orang gila AHAHA)

Nah selanjutnya adalah kecerdasan ruang sosial. Bener ges! namanya juga sosial jadi tebakan kalian pasti bener! yup sosial masyarakat. Seperti tadi kita itu makhluk sosial (kecuali kalo kalian sebenernya titan wkwkw) hidup bermasyarakat harus mampu bersosialisasi. Menempatkan diri sebagai masyarakat umum. Membaur, tahu bagaimana harus bersikap dengan satu orang atau orang lain, dengan individu atau kelompok masyarakat tertentu. Aku beneran tidak kuat menulis lagi, jadi sisanya aku tulis besok deh. Selamat malam, gut nait, mimpi indah, balik lagi secepatnya... oh berdoa ya ges jangan lupa, doakan juga orang-orang yang terlintas dipikiranmu sebelum tidur. Doa yang baik tapi, sebab doa baik akan kembali kepada orang yang mendoakan.

Malam ini aku meminta orang-orang yang aku sayangi tidurnya nyenyak, bangun dalam keadaan bugar, harinya berjalan lancar... lalu pulang dengan suka cita^^

Jumat, 07 Februari 2025

Halo Lagi!


Halo semua ini masih aku. Senang bisa kembali? Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku membuka website ini. Kalau kalian lupa aku bahkan pernah mengarang seperti ini wajar saja sih, orang aku juga lupa AHAHAHA. Nah guys aku pernah denger beberapa orang ngomong gini 'sesuatu yang datangnya dari hati, akan sampai ke hati' kalian setuju? komen dong xixixi. Jadi menurut kalian darimana tulisan ini berasal? Jujur saja rasanya malu banget. Jangankan rencana mau aku sebarluaskan ke media sosial, waktu nulis ini pun aku udah merasa malu. (Tapi kan kak dulu-dulu juga tidak punya malu?) Intinya sekarang aku jadi seperti itu. Tapi menurutku ini mungkin menjadi satu-satunya jalan buat aku menuliskan perasaan ku. Sulit kan mencari teman ngobrol? ahhh aku ragu banget mau lanjutin, seharusnya aku privat aja kali ya? tapi kalau pada akhirnya kalian baca berarti aku berubah pikiran. Tulisan ini sudah aku unggah ke dalam blog pribadiku.

Aku rasa kita terlalu banyak membuang waktu. Di kehidupan yang sekali ini, yang bahkan umurnya tidak panjang rasanya sayang banget kalau tiba-tiba meninggal dunia. Padahal kan di bumi-Nya yang luas kita dapat 'bersenang-senang'. Beberapa hari terakhir aku sadar penuh bahwa sebelumnya aku tidak sadar wkwkwk. Seorang teman mengingatkanku tentang kesadar itu. Mindfulness (aku juga lupa lagi hehe makanya aku baca ulang deh) katanya lagi gini 'kalo otak manusia tuh kayak perangkat yang secara "otomatis" menyarankan hal yang memudahkan sesuatu' for example saat sedang berkendara. Kalo dirasa udah terbiasa udah melakukan hal yang sama secara berulang, otak tuh masuk mode 'auto pilot' itu, terlebih kan kalau di jalanan tuh engga selalu sama tiap waktunya. Nah itu harus ada yang mengimbangi juga. Selain banyak ide yang muncul, terlalu mempertimbangkan juga yang bikin takut buat ambil langkah pertama itu. Hal yang terberat dalam kesuksesan itu bukan dari modal atau lingkungan, tapi dari langkah pertama yang diambil (ini juga masih kata dia AHAHAHAHA).

Kalian masih di sini? Terimakasih. Next! bahkan sesimpel berjalan dan makan aja kita engga sadar akan hal itu. Kosong? Aku... tidak tahu. Kayaknya waktu memutuskan untuk nulis tadi konsepnya engga kek gini deh. Tapi itulah aku hanya ikut kemana keyboard ini membawa ku xixixi. Jadi teman-teman ku, 'kalo dipikiranmu engga disibukkan dengan suatu hal, bacalah buku. Sedangkan kalau pikiranmu terasa berat, maka tulislah (nah kalo ini kata gurunya dia yang kemudian diteruskan padaku) kalian bisa simpulkan sendiri. Agaknya malam ini tidur larut? tidakkkk mauuuuu! rasanya tak rela waktu tidurku berkurang walau hanya semenit huhuhu.

Nah mindfulness itu bisa dilatih. Salah satunya dengan berdzikir (ini aku juga dikasih tahu) sepenangkapan aku, intinya fokus terhadap sesuatu? kata Rumi "berhentilah bertingkah kecil. Kamu adalah alam semesta dalam kegembiraan." kita bisa kok lakukan apapun. Jangan remehkan diri sendiri yaa, itu tidak baik buat kesehatan hati :) hanya sadari benar apa keinginanmu dan fokus akan hal itu. Hanya mulai dan lanjutkan. Ahhhhhh mindfulness! Apalah cape bet gue teh AHAHAHA.

Kalian apa kabar... rasanya... ah sudahlah! I mean, I mean, Yarobbal'alamin.

Minggu, 05 Februari 2023

Reason Why?

Halo assalamualaikum! Yang gak jawab dosa hihi. Guys sebenarnya ini pernah saya post di story whatssap dulu sekali. Waktu lagi punya banyak mood buat nulis. Tapi itu belum sempat saya save di blog saya, makanya kali ini saya pos ulang deh. Silahkan dibaca siapa tahu lupa kan apa tulisannya hihihhi tapi ini saya tambahin dikit kok

Reason why.

Sedikit berbicara mengenai kehilangan. Apa yang biasanya dirasakan ketika kehilangan? Ketika ditinggal orang-orang tersayang? Keluarga? Pasangan? Atau bahkan mantan mhehehe

Sedih bukan? Kecewa? Ya it's okay. Nggak papa. Biasanya kalau sedih maupun kecewa kita butuh pelampiasan kan? Boleh tahu dong apa yang biasa kalian lakukan ketika sedang sedih atau kecewa.
(tulis di komen ya wkwkwkwk).

Tapi bentar deh. Apa sih alasan sebenarnya seseorang merasa sedih? Kecewa?
Bang Iddin kata reason why seseorang merasa sedih kecewa karena kita tidak bisa terima apa yang hadir dan terjadi dalam kehidupan kita.

Waktu itu kita akan tak tenang, sedih, kecewa, dan akhirnya kita pun mulai mempertanyakan kenapa, kenapa, dan kenapa. Akibatnya kita butuh sesuatu untuk melampiaskan emosi kita. Dipikirnya mungkin boleh jadi dengan melampiaskan emosi dapat setidaknya melepaskan kesedihan dan kekecewaan. (Bener sih. Eh apa enggak?)

Mostly, orang akan melampiaskan emosinya melalui media sosial (moon maap kalau-kalau salah) post di ig, facebook, twitter, bagi di story whatssap, ig dan lainnya. Darinya kita berharap menemukan sedikit banyak orang yang peduli dengan kita. Berharap mereka mengerti namun sebenarnya tidak mengerti.
Ayo bedakan mana yang bener-bener peduli dan yang suka mencampuri.

Namun disaat tidak ada yang menanggapi, peduli, kita semakin kecil hati. Semakin merasa terasing dan tersisih barang kali? Kenapa dunia tak peduli?

"Ah rupanya tidak ada yang peduli. Apakah aku hantu dalam kuali?"

Semakin dirasakan, perlahan kita mulai menyalahkan keadaan. Hati tak tenang, makan tak sedap, minum teh manis rasa air tawar. Semua serba tak enak.

Sebab itulah kita harusnya lebih bijak dalam melakukan sesuatu. Pikir ulang dulu. Termasuk memilih tempat untuk mengadu. Sudah berulang kali lah mendengar ungkapan bahwa patah hati paling disengaja adalah berharap pada manusia. Kan?

Boleh lah sekali dua kali mengadu pada manusia. Untuk menemukan sedikit solusi. Barang kali. Tapi lama-lama mereka pasti bosan juga.

'Udah biasa, paling cuma cari sensasi. Males lah ladenin orang lebay kaya gitu. Membuang-buang waktu'. Nah lo kalau sampai mereka ngomong gitu kita bisa apa coba. Padahal kan bener kita sedang bermasalah. Ye kan?

Tapi lain dengan Tuhan. Semakin kita mengadu, semakin Dia suka.
Ingat guys, kita punya Doa! Minta sama Allah. Apapun itu andalkan Allah. Jadi ketika dunia seolah meninggalkanmu ketahuilah bahwa Tuhan selalu ada buat mu. Selalu mengerti kamu. Dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Allah ada dan akan selalu bersama kita. Tidak peduli seberapa banyak dosa yang kita lakukan, Dia akan selalu memaafkan.

Dia mungkin rindu. Ingin memelukmu. Mendengar keluh kesahmu. Ingin lebih dekat denganmu.
Trust Allah for everything! Dia tahu apa yang kamu butuhkan. Baik buruknya kehidupan pasti ada pelajaran. Jadi mulai sekarang jangan bersedih yang berlebihan, sewajarnya saja. Bukannya salah merasa sedih dan kecewa sebab kita manusia yang dianugerahi perasaan oleh Allah. Pokoknya ingat apa-apa yang terjadi pada kita itu sudah ditetapkan. Trust Allah.

Terakhir, ayo doakan siapa saja yang terlintas dipikiranmu sekarang. Siapa saja. Boleh pedagang yang kamu lihat dijalan, teman yang sedang kesusahan, atau diri sendiri yang sedang berjuang. Semoga di kuatkan. Doa-doa baik akan kembali kepada yang mendoakan. Semangat ya ges walalupun tetep ya Allah ya Allah ya Allah hihi. Semangat!

 

-yourlove-

Selasa, 06 September 2022

Warna Warninya Hidup


WARNA WARNINYA HIDUP

Sering kehidupan memberi banyak hal kepada kita untuk diajarkan. Namanya kehilangan, ditinggal orang tersayang, gaduh dengan teman, tak akur dengan rekan kerja. Itulah semua cobaan dan pengajaran.

Jangan anggap terlalu serius pula. Nanti malah jadi duri pada hati kita sendiri. Simpan waktu dan tenaga kita hanya untul hal-hal kebaikan. Yang berlalu itu sudah lepaskan. Kita manusia harus bergerak maju. Sesekali boleh lihat masalalu sebagai pengingat bahwa ternyata saya pernah dijalan itu dan saya tahu hal itu berakibat kurang baik pada diri saya sendiri. Jangan jatuh di lubang yang sama.

Dengar, semua orang inginkan hidup yang menyenangkan. Tapi perlu diingat bahwa selama kita hidup di dunia, masalah-masalah itu akan datang silih berganti. Bukannya Tuhan inginkan kita terluka, tapi Tuhan inginkan kita lebih kuat itu saja. Semua ada pengajaranya.

Anggap saja, jika kamu menginginkan warna ungu tetapi ditempat kamu hanya ada merah dan biru, jangan panik jangan tegang. Campur saja keduanya. Warna baru akan muncul. Maksudnya kita dapat membuat jawaban kita sendiri dengan memanfaatkan beberapa hal yang telah kita punya. Hanya karena tidak punya sesuatu atau tidak punya jawaban dari permasalahan itu sendiri, bukan berarti itu adalah akhir segalanya. Tarik nafas sejenak, lihat sekitar kita dengan modal coba-coba, kita akan mampu menciptakan sesuatu yang baru. Jawaban baru. Gabungan-gabungan kemungkinan dirangkai menjadi satu. Siapa yang tahu lewat hal itu akan menjadi jalan keluaru? Maksudnya ayo coba lagi. Temukan hal-hal indah bersama.

Kemudian apabila hari-hari mu dirasa kekurangan warna, warnai sendiri jangan manja. Buat warna mu sendiri apalagi jangan tunggu orang lain bagi. Coba saja. Kamu tidak punya warna hijau. Punyanya warna kuning dan biru. Campurkan keduanya dan lihat apa yang terjadi. Hey sekarang kamu punya warna hijau!

Itulah. Terkadang hal-hal disekitar kita akan sangat berguna. Akan memungkinkan mendatangkan warna-warna baru. Tergantung bagaimana kita mngolah, menyikapi, dan memanfaatkannya. Coba saja dulu. Kau tidak akan benar-benar tahu akhir seperti apa yang mungkin terjadi kalau tidak mencobanya sendiri. Hal itu akan terus membayangimu entah sampai kapan.

Ayo lakukan! Coba saja! Buat peluang sebanyak yang kita bisa, dan kemudian temukan lebih banyak warna dalam hidup. Pengalaman adalah guru terbaik!

‘Tapi saya takut. Bagaimana jika hasilnya buruk setelah mencoba?’

Eh eh. Semua hal bisa diperbaiki (kecuali emang yang tidak bisa wkwk) warna hitam akan lebih cerah jika ditambahkan warna putih. Tambal semua warna yang suram dengan banyak warna yang menyenangkan. Beberapa hal akan berubah. Mau tidak mau, cepat atau lambat. Pasti ada perubahan.

Last. Ingat ada kata-kata yang saya dengan entah dari mana, tidak ada keberanian tanpa rasa takut.

Gimana? Coba komen dong 😊 thank you tau sebab sudi baca hihi.

Jumat, 22 April 2022

Hari Bumi

 

Bumi. Sebuah objek kecil dibagian semesta. Sebuah bulatan yang menggantung entah dimana tepatnya. Ia diam. Mengambang. Tidak terbang. Tidak pula tenggelam.

Bumi. Tempat berbagai keajaiban terjadi. Tempat berbagai binatang menawan berdiri. Tempat beraneka ragam tumbuhan yang seolah mustahil untuk diteliti. Tempat dimana orang-orang yang kita kasihi, sayangi, cintai. Tempat dimana kita saling mengisi, saling mengasihi, saling menyayangi, saling memaki, hingga saling membenci. Dan mungkin sekali, tempat dimana sesuatu bersinergi dalam satu ilusi yang bahkan kita tidak ketahui
?

Sejarah menjadi bukti. Bagaimana bumi telah melewati berbagai peristiwa yang amat luar biasa.
Kepunahan devon akhir, kepunahan permian-triasic, sampai kepunahan trias-jurassic.

Kau tidak kasihan? Ia telah begitu banyak memberikan kehidupan. Memberi seluruh kehangatan. Pengabdian. Kesetiaan. Semua yang kau butuhkan.

Tapi apa yang telah kau berikan? Penebangan secara liar? Pengeboran minyak yang tak tahu aturan? Pembakaran hutan? Pencemaran lingkungan? Buang sampah sembarangan? Perburuan liar? Pemunahan satwa langka?

Oh tidak.

Please, jangan egois. Jangan jadi hedonis. Kau tidak memikirkan masa depan? Jadi sebenarnya apa sih yang ada dipikiran? Makanan? Hiburan? Atau jangan-jangan.....aku?
😁

Bisa kita renungkan bersama. Setiap hari kita sakiti bumi. Penebangan pohon secara liar. Pembakaran hutan. Buang sampah sembarangan. Dan apalagi? Kalian tahu sendiri. Setiap hari disakiti, dianiaya, dikhianati, dicurangi, siapa yang tahan coba?

Akibatnya bumi mungkin sedikit kesal. Sehingga dia membagikan apa yang dia punya kepada kita secara berlebihan. Agar kita sadar. Air. Pasir. Batu. Dan apa lagi? Seolah ingin lebih dihargai, disayangi, dicintai. Dia bahkan rela menyakiti bagian dari diri sendiri. Seperti meletusnya gunung berapi? Kalian paham? Udaranya. Pohon-pohonnya. Sungainya.

Tapi seringkali kita tak pedulikan ia. Yang penting adalah bagaimana aku bisa bahagia. Itu egois namanya.

Kita hidup bukan untuk hari ini. Bukan untuk diri sendiri. Besok bagaimana nasib keturunan kita? Mereka akan menempati bumi yang bagaimana? Sudah tua, tak berdaya pula. Tak ada tumbuhan-tumbuhan unik nan langka yang bisa mereka lihat langsung. Mungkin barangkali sekedar ilalang pun mereka tidak tahu. Apalagi sampai memegangnya.

Tidak bisa melihat memegang secara langsung hewan-hewan lucu yang menggemaskan. Hewan-hewan langka yang sangat sedikit di dunia. Seperti
kejadian dua jerapah putih ditembak mati. Apa salah mereka coba? Manusia mana yang tega berbuat seperti itu untuk kepentingan pribadi? Sungguh menyedihkan! Terlebih lagi bagaimana dengan generasi berikutnya?

Mereka hanya tahu melalui hologram barang kali. Tak pernah melihatnya secara langsung.

Bagaimana kalau mereka menuntut kita kelak? Dimintai pertanggung jawaban. Apa yang akan kita lakukan?

Karena kitalah mereka tidak bisa menikmati bumi yang begitu asri. Karena kitalah mereka kehilangan kesempatan untuk mengelus punggung seekor gajah. Atau bahkan kehilangan kecoa sekalipun.

Ini tidak adil buat mereka. Mari sama-sama tinggalkan bumi yang sehat untuk generasi berikutnya.

The wor
ld is awaking up! And change is coming. Suka ataupun tidak.

 

-yourlove-

Selasa, 15 Maret 2022

Kita dan Kamera

 

Haiiiiii I am back. Pa kabar?

Well belakangan ini aku menemukan sudut pandang baru tentang sesuatu. Aku pikir akan berguna jadi aku akan membagikannya dengan kalian. Aku masih membaca buku judulnya The Things You Can See Only When You Slow Down karya Haemin Sunim.

…. Kita dikelilingi momen-momen indah, katanya.

Aku belakangan mengobrol banyak hal dengan teman-teman tengtang berbagai macam perasaan. Perasaan bahagia, perasaan sedih, gelisah, ketakutan, dan segala macamnya. Ngomong-ngomong soal perasaan, siapa sih di dunia ini yang gak pernah merasakan perasaan semacam di atas. Umumnya semua orang merasakannya. Bahagia, sedih, kecewa, dan segala macamnya. Mereka pernah. Jadi kalau di pikir lagi itu semua hal wajar. Bukan masalah besar. Bahagia, sedih, dan apapun itu. Okelah kalau perasaan bahagia tidak dikeluhkan. Tapi bagaimana perasaan-perasaan yang lain? Yang sifatnya negatif? Ya, kita sering mengeluh.

Ketika perasaan negatif itu memenuhi jiwamu seolah yang kau rasakan hanya hal-hal buruk yang terjadi di sekelilingmu. Padahal tidak. Bukan seperti itu. Itu hanya perasaanmu. Yang namanya perasaan itu sifatnya sementara. Tidak selamanya. Aku yakin kalian pasti pernah merasakan cinta tapi tiba-tiba berubah menjadi benci. Pernah merasakan kebahagiaan yang begitu besarnya namun tiba-tiba hilang entah kemana. Marah juga sama, menguap begitu saja. Jadi santai aja dengan perasaan yang datang. Jangan berlebihan, karena itu hanya sementara dan tidak selamanya. Jadi Ketika kita merasa sangat sedih dan yang terjadi hanya hal-hal buruk disekitar kita, kita hanya perlu membuka mata sedikit lagi melihat sekitar kita. Semua tidak selalu hal buruk. Hanya kita saja yang menolak untuk melihatnya. Seperti kamera, ia akan fokus kepada hal yang diinginkan pemiliknya. Sedikit kesulitan aku menyampaikan hal ini karena memang aku sendiri susah merangkai kata hingga membuat orang-orang paham. Tapi mari kita lihat tulisan Haemin Sunim di BAB 1 halaman 32 di bawah ini.

“Suatu keluarga berjalan di antara daun-daun yang berguguran. Sang ayah menggendong puteranya yang berusia lima tahun, dan anak itu menghujani ayahnya dengan kecupan. Sang ibu melihatnya dengan senyum di wajah. Jika kita mau mengambil waktu untuk memandang sekeliling, kita akan sadar bahwa kita dikelilingi momen-momen indah”

-yourlove-


 

XIXI

Sayang ini masih januari 2026, tulisan pertama ku tahun ini. Pengalaman kurang menyenangkan tapi aku rasa beberapa orang ingin tahu? Siapa...